Kenapa suka hidup di jalan?
Kebanyakan orang bilang bahwa hidup dijalan itu nggak enak. Panas,
banyak polusi, berisik, sumpek, dan lain lain. Tapi disitu point of
interestnya. Banyak pelajaran yang bisa saya ambil di jalan. Itulah alasan mengapa
saya suka sekali pergi pergi. Di jalanlah saya bisa melihat sesuatu yang
berbeda yang tidak bisa saya dapatkan di sekolah (mungkin). Saya bisa lebih
memaknai kehidupan, bagaimana cara seseorang bisa berubah sifat seketika saat
jalannya dipotong orang lain, saya bisa menyadari jika setiap manusia pasti
memiliki karakter tersembunyi. Saya juga sadar ketika melihat seorang anak yang
merengek meminta motor, sedangkan ayahnya dengan lusuh membanting tulang saking
ingin membelikan anaknya motor. Saya sadar bahwa dalam kehidupan ini butuh
pengorbanan yang besar, dan setiap pengorbanan yang besar pasti akan
mendapatkan hasil yang besar pula. Saya yakin bahwa sang ayah tadi juga tidak
akan meminta balasan apapun kepada anaknya, senyuman dan kegembiraan anaknya
pasti sudah cukup untuk membayar kerja kerasnya. Saya kadang berfikir, di
tempat yang tidak disangka sangka, kita juga bisa menerima pelajaran yang
sangat berharga. Kehidupan ini sangat keras.
Kenapa suka naik bis?
Nah, pertanyaan susah. Kadang saya juga bingung menjawab
pertanyaan ini. Mungkin karena naik kereta monoton (kalau malam), saya lebih
suka naik kereta saat malam. Nah mungkin ini bisa jadi jawaban. Di bis, selain
kita bebas melihat pemandangan, dan aksi aksi tertentu (blong blongan haha),
kadang saya juga bisa memetik pelajaran. Kadang bisa melihat kru bis yang lelah
membanting tulang untuk menghidupi keluarganya, kadang juga duduk bersebelahan
dengan orang yang tidak dikenal, saling cerita, mendapat sedulur yang baru, dan
lain lain. Saya dapat memetik pelajaran bahwa memang jangan memandang hanya
dari tampilannya itu benar adanya. Bukan berarti jika tampilannya terlihat
ceria, lalu hidupnya juga selalu ceria, belum tentu. Siapa tau dia punya
masalah yang besar dan berusaha menutupinya, hanya dia dan tuhan yang tahu.
Ya tapi apa mau dikata, mungkin pandangan saya dan orangtua
saya berbeda. Mungkin beliau memang menginginkan yang terbaik untuk saya. Saya mensyukuri
itu. Mungkin memang saatnya saya berhenti sejenak di zona nyaman ini. Haruskah?