Monday, 11 May 2015

Pertanyaan besar, terjawab sudah

Selamat malam.. Saya akan menjawab pertanyaan yang selama ini banyak teman teman saya tanyakan kepada saya.. Saya memang suka bis, entah kenapa, tauk ah. Tapi mungkin orangtua saya belum bisa (mungkin) menganggap hobi ini positif, entah bagaimana saya harus membuktikan kepada beliau bahwa hobi saya ini tidak "negatif" seperti yang beliau fikirkan. Oke langsung saya jawab saja..

Kenapa suka hidup di jalan?

Kebanyakan orang bilang bahwa hidup dijalan itu nggak enak. Panas, banyak polusi, berisik, sumpek, dan lain lain. Tapi disitu point of interestnya. Banyak pelajaran yang bisa saya ambil di jalan. Itulah alasan mengapa saya suka sekali pergi pergi. Di jalanlah saya bisa melihat sesuatu yang berbeda yang tidak bisa saya dapatkan di sekolah (mungkin). Saya bisa lebih memaknai kehidupan, bagaimana cara seseorang bisa berubah sifat seketika saat jalannya dipotong orang lain, saya bisa menyadari jika setiap manusia pasti memiliki karakter tersembunyi. Saya juga sadar ketika melihat seorang anak yang merengek meminta motor, sedangkan ayahnya dengan lusuh membanting tulang saking ingin membelikan anaknya motor. Saya sadar bahwa dalam kehidupan ini butuh pengorbanan yang besar, dan setiap pengorbanan yang besar pasti akan mendapatkan hasil yang besar pula. Saya yakin bahwa sang ayah tadi juga tidak akan meminta balasan apapun kepada anaknya, senyuman dan kegembiraan anaknya pasti sudah cukup untuk membayar kerja kerasnya. Saya kadang berfikir, di tempat yang tidak disangka sangka, kita juga bisa menerima pelajaran yang sangat berharga. Kehidupan ini sangat keras.

Kenapa suka naik bis?

Nah, pertanyaan susah. Kadang saya juga bingung menjawab pertanyaan ini. Mungkin karena naik kereta monoton (kalau malam), saya lebih suka naik kereta saat malam. Nah mungkin ini bisa jadi jawaban. Di bis, selain kita bebas melihat pemandangan, dan aksi aksi tertentu (blong blongan haha), kadang saya juga bisa memetik pelajaran. Kadang bisa melihat kru bis yang lelah membanting tulang untuk menghidupi keluarganya, kadang juga duduk bersebelahan dengan orang yang tidak dikenal, saling cerita, mendapat sedulur yang baru, dan lain lain. Saya dapat memetik pelajaran bahwa memang jangan memandang hanya dari tampilannya itu benar adanya. Bukan berarti jika tampilannya terlihat ceria, lalu hidupnya juga selalu ceria, belum tentu. Siapa tau dia punya masalah yang besar dan berusaha menutupinya, hanya dia dan tuhan yang tahu.

Ya tapi apa mau dikata, mungkin pandangan saya dan orangtua saya berbeda. Mungkin beliau memang menginginkan yang terbaik untuk saya. Saya mensyukuri itu. Mungkin memang saatnya saya berhenti sejenak di zona nyaman ini. Haruskah?


No comments:

Post a Comment